Salah satu perbedaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dengan tubuh perjuangan yang lain, terletak pada kemauan dan kemampuannya dalam menjalankan bisnis sosial. Esensi bisnis sosial ialah menuntaskan duduk perkara-masalah sosial yang ditangani dengan manajemen bisnis. BUMDesa dalam tataran bisnis sosial tidak menekankan pada sisi profit, akan tetapi benefit. Ukurannya yakni berapa masalah sosial di desa yang mampu ditangani secara bisnis.
Setiap layanan dasar sosial di desa yang bisa dikelola secara profesional dengan menekankan nilai manfaat daripada surplus, itu lah bisnis sosial. Yang seyogyanya dilakukan oleh BUMDesa. Ini artinya kehadiran BUMDesa dalam menuntaskan masalah sosial dengan tetap memperhatikan kemampuan operasional menjadi tujuan yang diperlukan.
Pertanyaannya bolehkah BUMDesa mengambil pembayaran dari pemanfaatnya? Boleh.
Akan tetapi besaran tarif yang dikenakan dihitung sekedar cukup untuk membiayai operasional BUMDesa, termasuk honor karyawan, dan sedikit cadangan resiko. Rencana bisnis yang disusun oleh pengurus BUMDesa tetap menekankan efektifitas dan efisiensi. Sedangkan surplus tidak menjadi skala prioritas, sehingga penilaian kelayakan usaha tidak didasarkan atas hitung-hitungan dalam laporan keuangan semata. Bahkan, lebih dominan pada seberapa manfaat yang diterima oleh masyarakat desa yang terkena masalah sosial tersebut.
Solutif dan Kolektif
Usaha yang dijalankan BUMDesa dalam bisnis sosial harus bersifat solutif. Ketika ada problem yang dialami oleh masyarakat, yang belum cukup dilakukan dengan program kerja desa, mampu dilakukan atau dilanjutkan oleh BUMDesa. Jauhi pikiran perihal berapa surplus atau Pendapatan Asli Desa (PADes) yang didapatkan dengan jenis bisnis ini. Karena disamping sebagai penghasil PADes, BUMDesa memiliki tugas sebagai kepanjangtanganan Kepala Desa dalam mensejahterakan masyarakat. Titik fokusnya pada kesejahteraan masyarakat, dengan cara menambah pendapatan, mengurangi pengeluaran, atau meminimalisir efek jelek dari permasalahan sosial yang perlu ditangani.
Ketika penyediaan air higienis menjadi jenis usaha BUMDesa, maka tarif yang dikenakan tidak terlalu tinggi. Cukuplah untuk menggaji karyawan secara layak, biaya perawatan jaringan, cadangan perbaikan jaringan. Untuk pemasangan jaringan gres, bisa dianggarkan melalui APBDes pada pos belanja. Pemanfaatan air untuk perjuangan lain mirip air minum kemasan atau kolam ikan, harus memperhatikan betul kecukupan ketersediaan air bagi masyarakat yang lebih urgen. Jangan sebab tergiur keuntungan yang lebih besar, maka layanan dasar persoalan air diabaikan. Maka yang harus disadari pada jenis perjuangan ini, bagi pengurus, utamanya wacana kemanfaatan usaha ini bagi masyarakat.
Permasalahan
sampah pun demikian. Seyogyanya, iuran yang ditarik dari warga untuk pengelolaannya, sekedar cukup untuk mengurangi pengaruh dari sampah. Pemerintah Desa mampu menganggarkan biaya guna tempat pengolahan sampah baik yang kering atau berair. Selain itu, upaya re-use, reduce, dan recylce penting untuk terus dikampanyekan. Masyarakat didorong, melalui keteladanan tentunya, untuk memanfaatkan sampah sebelum benar-benar tak dipakai lagi.
Aneka pembinaan pengolahan sampah menjadi barang bernilai lebih tinggi, sebaiknya kontinu. Dirikan daerah-kawasan workshop guna daur ulang. Kampanye menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, membawa tas sendiri dikala berbelanja, dan mengurangi penggunaan plastik menjadi pola kegiatan-kegiatan dalam meringankan imbas sampah. Tanamkan pula pemahaman bahwa membayar iuran bulanan guna pengelolaan sampah, bukan berarti tuntas problem sampah.
Penanganan masalah sosial baik yang dilakukan secara konvensional maupun bisnis sosial, tak bisa bersifat parsial. Pelaksanaannya melibatkan banyak pihak. Meski BUMDesa bisa dijadikan motor pelopor, forum lain, dan masyarakat dengan kepemimpinan Kepala Desa lah yang bisa menyelesaikannya. Karenanya kerja-kerja kolaboratif secara massif mesti dilakukan secara berkesinambungan.
Memperbesar skala
Saat kita masih berpikir bahwa bisnis sosial yang dilakukan dalam kadar biasa-biasa saja, yakinlah keberhasilannya akan jauh panggang dari api. Bisnis sosial pun membutuhkan skala usaha yang lebih. Besaran skala semestinya lebih daripada target duduk perkara sosial itu sendiri. Karena hampir mustahil ada perjuangan yang berhasil 100% dari yang direncanakan. Selain terasa keuntungannya, skala usaha dalam bisnis sosial BUMDesa, akan terhindar dari jebakan‘mematikan’ usaha warga.
Tak sedikit BUMDesa yang latah menjalankan usahanya. Ketika perjuangan BUMDes Mart, pengelolaan sampah, wisata desa, pengelolaan air higienis, dan lain sebagainya berhasil, mereka ikut-ikutan. Tanpa memahami substansi dari bentuk acara tersebut, pengurus BUMDesa pun menjalankan perjuangan yang sama. Maka tak jarang kehadiran BUMDes Mart justru tak jauh beda dengan toko modern lainnya, ikut andil mematikan perjuangan warga desa. Pengelolaan wisata desa dengan memanfaatkan alam, mungkin masih lebih baik. Akan tetapi titik jenuh pengunjung alasannya adalah spot-spot yang tersedia dalam wahana tersebut, perlu diantisipasi. Karena ketika titik jenuh itu muncul, penurunan pengunjung pun akan dialami.
Bisnis sosial yang dilakukan oleh BUMDesa harus mampu bekerja dalam berskala besar. Kebutuhan akan tempat tinggal yang selama ini disediakan oleh pengembang yang profit oriented, tak ada salahnya BUMDesa mengambil tugas itu. Saluran distribusi produk-produk pertanian, peternakan, dan perikanan yang menjadi target yang juga mesti di bidik, sehingga ketersediaan produk yang kadang dipermainkan pedagang besar, akan terpengaruhi keputusaannya saat BUMDesa bisa hadir dengan misi sosialnya.
Besaran skala bisa dilakukan dengan melakukan kerjasama antar desa dalam pelayanan perjuangan melalui BUMDesa Bersama. Keberadaan BPR BKD Banyumas sebagai forum intermedia dan konsolidasi modal yang dimiliki desa merupakan acuan bisnis sosial. Lembaga keuangan yang lahir satu tahun sehabis BRI dan berbasis di desa ini, menjawab kesulitan terusan permodalan masyarakat desa pada lembaga perbankan umum. Pengelolaan bersama antar desa mempermudah dalam perencanaan, pengawasan, dan evaluasinya karena sistem manajemen dibuat bercirikan desa.
Sumber: https://www.kikis.id/bisnis-sosial-bumdesa/